Langkah Awal Belajar Taichi di Toyo Gesang

Langkah Awal Belajar Taichi di Toyo Gesang

Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah pertama. 

~Lao-tzu

Niat belajar taichi muncul sejak tahun 2023 lalu. Kata “taichi” meletup begitu saja dalam salah satu sesi scatterfocus-ku. Tentu bukan tanpa alasan kata itu muncul. Aku memang sudah agak lama merenung-renung apa olah tubuh yang ingin aku tekuni di masa menjelang paruh bayaku ini.

Aku sempat mencoba opsi berenang, tapi ini ribet karena harus keluar rumah dan bawa aneka peralatan. Lalu aku coba yoga: cari guru yang bisa menjelaskan filosofinya kok nggak ketemu-ketemu, latihan sendiri berdasar youtube dan buku, eh, malah jadi terkilir.

Sejak tidak yoga, untuk sekian waktu, aku hanya stretching dan jalan kaki keliling kompleks sambil mencari ilham: apa, ya, olahraga yang bisa dikerjakan sendiri di rumah atau di mana saja, tidak butuh banyak piranti, bisa terus dikerjakan meski nanti aku sudah lansia, dampaknya holistik, dan bukan sekadar teknis, tapi ada filosofi dan olah batinnya.

Seperti biasa, alam bawah sadar membantuku mencarikan jawaban. Muncullah ide “taichi” itu. Dan aku langsung: Aha! Betul, itu cocok sekali. Dengan semangat aku googling mencari informasi. Aku unduh beberapa video latihan gerakan taichi dasar, yang paling simpel pokoknya. Setelah aku simak dan coba, aku makin yakin taichi sesuai kriteria yang kucari.

Sesuai dengan teori deliberate practice, untuk maju kita butuh umpan balik dari senior. Itu yang tidak aku dapatkan kalau belajar dari youtube. Maka lanjutlah upayaku mencari-cari pengajar taichi. Sempat bergabung ke satu kumpulan praktisi taichi di kotaku, tapi setelah beberapa kali latihan, aku merasa kebutuhanku akan struktur, kurikulum yang sistematis, dan personal feedback tidak terpenuhi.

Sekian bulan niat taichi mengalami hibernasi, sampai tiba-tiba bawah sadar pop-up lagi dengan usulan, “Si Tia bukannya praktisi taichi, ya? Coba tanya dia aja!” Begitulah, aku japri Tia, tanya-tanya tentang belajar taichi yang sistematis, dan di akhir pekan terakhir Juni 2024 ini, dengan segala macam serendipity dalam prosesnya, aku berangkat ke resor Toyo Gesang di Bogor (coret) untuk mengikuti retret taichi perdanaku di bawah bimbingan gurunya Tia.

***

Shifu Henry Remanlay adalah murid dari Chen Zhaosen, grandmaster taichi keturunan langsung dari pendiri taichi, Jenderal Chen Wangting di zaman Dinasti Ming (tahun 1500-an). Chen Zhaosen terhitung sebagai generasi XI dalam suksesi taichi aliran Chen. Berarti, Shifu Henry menjadi generasi XII.  

Alkisah, Jenderal Chen merasa gelisah di masa tuanya, bertanya-tanya apa legacy lestari yang akan dia tinggalkan. Berangkat dari kesadaran bahwa beranjak tua, power menurun, tidak seperti energi yang tak lekang oleh waktu, Jenderal Chen ingin merumuskan ilmu yang mengandalkan energi, bukan power. Dengan menggabungkan kungfu, qigong, juga ilmu pengobatan Cina (traditional Chinese medicine), lahirlah taichi yang bisa mengatasi power besar dengan energi kecil. Begitu kurang lebih tutur Shifu Henry tentang riwayat taichi di hari pertama retret.

***

Niatku ikut retret taichi ini adalah untuk mendapatkan kejelasan step-by-step belajar taichi mulai dari tahap paling awal, juga bimbingan untuk memahami cara yang tepat untuk mengerjakan latihan-latihan dasar itu. Ekspektasiku sudah terjawab sejak hari pertama.

Semua peserta retret yang newbie dikelompokkan menjadi satu dan diajari dua gerakan fundamental taichi, yaitu “memintal sutra” alias silk reeling (纏絲功, chan-si-gong) dan meditasi berdiri (站樁, zhan-zhuang). Ada senior yang mencontohkan, lalu kami yang yunior-yunior ini menirukan. Lihat contohnya sih kelihatan gampang, setelah mengerjakan sendiri, ternyata rumit!

Kerumitan terjadi karena prinsip-prinsip dasar gerakannya baru jadi pengetahuan di kepala, belum menubuh. Jadi sembari melakukan gerakan, benakku masih berusaha mengecek terus, apakah:

  • kepala, leher, dan tulang punggung sudah lurus, seolah ada benang yang menarik seluruhnya ke atas (虛靈頂勁, xu-ling-ding-jin)
  • bahu sudah rileks, tidak naik-naik, terutama saat tangan bergerak ke atas;
  • dada tidak terlalu membusung
  • pinggul bergerak rileks tapi posisi paha dan lutut tetap membuka ke arah luar membentuk kubah yang kokoh berpijak ke tanah (prinsip kwa dan tang)
  • tulang ekor masuk tanpa menggerakkan pinggul (sink)
  • lutut tidak menekuk menutupi/melewati ujung jari kaki (warning: kita bisa cedera lutut kalau tekukan lutut berlebihan!)
  • arah jari-jari kaki lurus ke depan
  • tangan bergerak mengikuti gerakan pinggul
  • tumpuan berpindah dari satu kaki ke kaki lain sesuai gerakannya
  • jari-jari tangan rileks, telapak tangan menghadap ke arah yang tepat
  • atensi fokus terarah ke area pusat energi di pusar alias field of elixir (丹田, dan-tian)

Selama proses berlatih, shifu rutin berkeliling untuk mengoreksi postur dan gerakan. Jadi ketahuanlah “kelemahan” tiap peserta. Ada yang pantatnya punya kebiasaan terlalu nungging, ada yang badannya miring. Aku sendiri kedapatan kaki dan lutut kanan lebih tidak stabil dibanding yang kiri (aku kira akibat kecelakaan motor dua dekade lalu). Bahuku juga cenderung tegang/naik. Dada kurang masuk, tulang ekor belum menutup. Mengoreksi postur ini perlu agar aliran energi di dalam tubuh lebih lancar, kita dijauhkan dari nyeri atau cedera.

Dua hari retret aku fokuskan untuk melancarkan memintal sutra dan meditasi berdiri. Sebetulnya ada opsi bagi peserta beginner untuk mencoba belajar jurus juga, tapi aku memilih tidak ikut. Aku merasa sudah cukup dua gerakan dasar itu saja dulu untuk nanti aku ulang-ulang di rumah.

***

Meski irama dan porsi latihannya gentle, tetap saja usai latihan ada pegal dan jarem, terutama di bagian paha dan lutut. Ini normal saja dan aman, kata shifu, asal kita sudah memastikan bahwa selama latihan lutut tidak ditekuk sampai menutupi/melewati ujung jari kaki.

Pegal karena latihan yang tepat itu justru tanda bahwa sedang terjadi perbaikan. Orang modern, lanjut shifu, umumnya kurang melatih bagian bawah tubuh. Ibarat pohon tinggi menjulang tapi akarnya lemah dan keropos, maka aliran kehidupan tidak berjalan dengan baik, mudah patah atau tumbang. Walaupun awalnya pegal dan jarem, berlatih taichi secara rutin dengan postur dan gerakan yang tepat akan memperkuat akar tubuh kita.

Tentu saja jika ingin hidup berkualitas, bukan cuma belajar taichi, tapi seluruh gaya hidup perlu diperbaiki. Dalam tradisi ilmu pengobatan Cina dikenal amaran tentang “lima kelemahan” (五勞, wu-lao) dan “tujuh kerusakan” (七傷, qi-shang). Kebanyakan tidur, kebanyakan duduk, kebanyakan berdiri, kebanyakan kerja, dan kebanyakan membaca atau menonton, begitu juga emosi-emosi yang berlebihan, akan melemahkan dan merusak organ-organ dalam.

Lalu seperti apa cara terbaik menjalani hidup dalam tradisi taichi? Apa petunjuknya tentang: how to live a good life? Apa life purpose kita ada di dunia ini? Pertanyaan ini aku ajukan kepada shifu di salah satu sesi diskusi bersama di antara latihan. Shifu menyinggung tentang ajaran Tao sebagai spiritualitas dasar dalam taichi. Hidup yang baik adalah hidup yang sesuai dengan kodrat dan panggilan personal kita, sama seperti air yang mengalir selalu ke bawah, atau burung yang terbang di langit.

(NB: Sesampainya di rumah, aku cari referensi lanjutan tentang perspektif Taoisme tentang tujuan hidup, dan aku mendapatkan kata kunci 無爲 (wu-wei) yang arti harafiahnya adalah non-doing atau tidak melakukan apa-apa. Hidup manusia menjadi sehat dan lestari ketika selaras dengan hukum alam atau Tao: kalem, rileks, bersahaja, sederhana, prioritasnya mengolah batin dan tubuh alih-alih ngotot/ngoyo mengejar kekayaan, ketenaran, atau pujian, i.e. artificial rewards. Hmmm … tantangan besar buat orang modern, bukan?)

***

Hal menyenangkan dari belajar sesuatu yang baru seperti taichi ini adalah aku jadi cross path dengan pribadi-pribadi yang membukakan khazanah pengetahuan baru pula. Aku senang menyimak mereka bercerita penuh passion tentang istilah-istilah yang belum aku akrabi: kinesiologi, reiki, brain gymtouch for healthqigong, akupuntur, herbal, dan seterusnya.

Dan juga ada momen sharing dari hati ke hati. Sembari mengunyah di ruang makan, atau duduk dengan kaki keceh di dalam air sungai, atau mojok di ruang latihan sampai malam, kami bertukar kisah tentang dari mana kami datang dan ke mana kami hendak pergi. Setiap kawan punya cerita uniknya mengapa mereka sampai ke Toyo Gesang. Aku kira sama sepertiku, belajar taichi menjadi satu kepingan puzzle lain yang mereka temukan untuk melengkapi big picture kehidupan mereka. 

***

“Kalau buatku, latihan sedikit-sedikit, tapi yang penting bisa konsisten dulu,” ujar Ayu, perempuan berdarah Bali yang besar di Jakarta. Dari pengalamannya ikut berbagai kelas,  dia dapati yang tersulit adalah mempertahankan semangat rutin berlatih. Tentang taichi ini pun, dia kira tantangannya sama. 

Aku jadi teringat temuan psikolog Allen Wheelis tentang perbedaan karakter generasi jadul (sebelum 1950-an) dengan generasi setelahnya. Generasi jadul umumnya sulit menerima ide atau ajaran baru, tapi begitu bisa menerima, maka mereka tidak akan kesulitan menerapkannya, karena mereka punya kapasitas disiplin diri yang tinggi (dengan kata lain: sudah biasa mengerjakan kewajiban tidak berdasar mood). Sementara generasi muda cenderung mudah menerima ide atau ajaran baru, tapi setelah menerimanya, sering kesulitan menerapkan karena latihannya angot-angotan (moody), kapasitas disiplin dirinya lemah. 

Makanya aku nyengir lebar ketika Shifu Henry menjawab pertanyaan berapa lama sehari perlu latihan taichi:  “Saya tidak akan membuat patokan. Asal ada waktu latihan saja, mau 5 menit, 10 menit, sambil menunggu antrian pun bisa dipakai buat latihan. Daripada nanti saya tentukan sekian menit, tapi lalu dipegangi sebagai patokan, dan ketika merasa tidak punya waktu sebanyak itu, lalu malah tidak latihan.”  

Ahaha. Sungguh kebijakan yang realistis untuk generasi masa kini.  Ya, realistis. Dari perspektif habit training, tidak ada gunanya seorang guru memberi murid-muridnya perintah latihan yang tidak bisa dia kawal. Sepulang dari retret ini, setiap peserta berlatih tanpa pengawasan. Kami akan mengandalkan disiplin diri sendiri-sendiri. Mau berlatih atau tidak berlatih hari ini? Itu keputusan yang perlu diperbaharui tiap hari, tergantung visi masing-masing: apa artinya taichi ini bagi hidup saya? 

Kupikir-pikir, kata bijak Lao-tzu di atas tadi perlu diubah menjadi: “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama, yang terus diikuti langkah-langkah kecil berikutnya.” Bisa jadi kita sudah mengambil satu langkah pertama yang meyakinkan, tapi apabila setelah langkah pertama itu diayunkan, lalu kita berhenti melangkah, maka seribu mil tetap akan seribu mil jauhnya. 

Ellen Kristi
https://ellenkristi.id

2 Comments

Lena

Wow..I m impressed you write down everything what I said during our lesson..

    Ellen Kristi

    Thanks for being a patient teacher for me, Bu Lena!

Leave a Reply to Lena Cancel reply